Panembahan Maduretno: Perjuangan Melawan Penindasan

Panembahan Maduretno ibarat sosok ratu adil oleh rakyat bagian timur Jawa pada saat kuatnya hegemoni Mataram abad ke 17. Sebelum menjadi raja beliau dikenal dengan nama Nila Prawata atau Trunojoyo. Secara genealogi Panembahan Maduretno membawa garis dari keturunan penguasa Madura Barat  yang telah memeluk agama Islam. Ayahnya bernama Raden Demang Malaya Kusuma putra Penembahan Prasena dari seorang selir (Ma’arif.2015: 112). Tidak banyak sumber sejarah yang dapat digunakan untuk menggali kisah masa kecil Maduretno. Cukup beruntung bahwa tradisis lisan masih menyimpan kisah masa kecil  beliau. Dalam tradisi lisan diceritakan bahwa walaupun tinggal dilingkungan keraton Mataram, masa kecil Maduretno tidak selayaknya bangsawan lainnya, beliau hidup dalam kesederhanaan. Pengalam masa kecil beliau yang tumbuh dari tradisi Jawa dan nilai-nilai agama Islam begitu kuat berpengaruh dan membentuk kepribadian beliau. Saat tumbuh menjadi laki-laki dewasa beliau telah memiliki kecakapan sebagai seorang pangeran dalam hal ilmu agama, bela diri, dan kesaktian. Diceritakan pula bahwa dalam kesehariannya Maduretno selalu membawa celurit untuk melengkapi penampilannya sehingga membawa kesan keberanian dan memiliki jiwa kepemimpinan.

Sebagai orang yang berada di pusat pemerintahan Mataram beliau menyaksikan sendiri bangaimana dinamika politik dan sosial dari era Sultan Agung sampai Amangkurat I/II. Suksesi Kerajaan Mataram pada tahun 1646 setelah wafatnya Sultan Agung telah mengantarkan  Amangkurat I pada singgasana Kerajaan Mataram (Graaf. 2002:351).  Dari situlah titik balik keagungan Mataram terjadi. Amangkurat I berupaya merubah landasan pemerintah Sultan Agung yang menyatukan Mataram dari kekuatan militer dan konsensus politik raja-raja taklukan menjadi suatu politik kekuasaan yang sentralistik dan mengabaikan konsensus yang sebelumnya telah dibangun dan dibina dengan baik bagi keutuhan Mataram (Riclefs. 2005:164). Sertamerta kegaduhan terjadi saat Amangkurat membantai bangsawan-bangsawan penting yang dianggap tidak loyal pada pemerintahan Amangkurat I, bahkan salah satunya ialah mertuanya sendiri seorang penguasa Surabaya yang bernama pangeran Pekik beserta seluruh keluarganya pada tahun 1659. Sikap Amangkurat I menyebabkan raja-raja vasal yang dulu mendukung Sultan Agung mulai memikirkan kembali manfaat dari hubungannya dengan Mataram. Belum lagi gesekan yang terjadi antara Amangkurat I dengan ulama-ulama penting di Jawa pada kasus perzinahannya saat masih berstatus puta mahkota Mataram. Kebijakan politik Amangkurat I tentu bukan hanya berdampak bagi elit dari pusat sampai daerah-daerah yang dikuasai Mataram, Penduduk di kawasan pesisir utara Jawa juga menerima beban penindasan dari pungutan-pungutan pemerintah dan sejumlah aksi penutupan pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa memperlemah perekonomian rakyat.

Setiap penindasan pasti melahirkan benih-benih perjuangan untuk merubah keadaan. Merujuk pada Soerjonon Soekanto (2012:286) bahwa ketidak puasan yang berlangsung lama dalam sebuah masyarakat berkemungkinan besar akan mendatangkan revolusi. Sedangkan sebuah revolusi harus didasari oleh; keinginan umum, adanya agen perubah, dan momentum perubahan. Dengan demikian Panembahan Maduretno mengambil posisi sebagai agen perubahan dengan mengakomodasi kepentingan segala lapisan masayarakat baik dari kalangan elit kerajaan maupun rakyat jelata untuk menghadirkan perubahan di kerajaan Mataram. Momentum dari perubahan itupun menjadi terbuka saat terjadi perselisihan antara Amangkurat I dengan putra mahkota yang bernama Adipati Anom. Dalam Babad Tanah Jawi terungkap suatu upaya dari Adipati Anom mengadakan kesepakatan rahasia dengan Panembahan Maduretno untuk melemahkan kekuasaan Amangkurat I. Dari situlah Panembahan Maduretno mengerahkan segala upayanya dengan diawali merebut pemerintahan di Madura serta membangun pasukan Madura yang kuat sehingga kemudian hari mampu merubut sejumlah daerah vasal kerajaan Mataram. Maduretno tidak berjuang sendiri. Bersamanya pula pimpinan perompak laut Jawa asal Makasar bernama Karaeng Galesong mendukung dari segi militer. Adipati disemjulah daerah bersimpati pada perjuangan Panembahan Maduretno, serta turut pula dukungan dari kaum ulama yang sejak dari awal pemerintahan Amangkurat I menjalin hubungan yang cukup renggang. Dalam kondisi minimnya dukungan maka Amangkurat I memilih untuk meminta bantuan pada VOC. Admiral Speelman ditunjuk untuk menghadapi Panembahan Maduretno oleh VOC. Pertempuran hebat terjadi di Surabaya, saat itu Panembahan Maduretno terpaksa menyingkir kepedalaman kemudian selanjutnya bergerak menyerang ibukota Mataram, Plered (Suyono. 2003:68). Sebelum Panembahan Maduretno Menguasai Plered, Amangkurat I bersama Adipati Amon telah melarikan diri untuk meminta perlindungan pada VOC. Di tengah Perjalannya, Amangkurat I meninggal dunia sehingga kemudian tampuk pemerintahan berada pada Adipati Anom yang naik tahta dengan gelar Amangkurat II. Cukup ironis mengingat sebelumnya Adipati anomlah yang berada dibalik gerakan panembahan Maduretno namun kemudian mereka berdua berhadap-hadapan sebagai musuh untuk memperjuangkan tahta kerajaan Mataram. Dalam kurun waktu yang yang relatif singkat Panembahan Maduretno mengukuhkan kekuasaannya atas tanah Jawa dengan memboyong semua pusaka kerajaan Majapahit di Ibukota Mataram, salah satu di antaranya mahkota raja Majapahit sebagai simbul kekuasaan. Kediri dipilih sebagai pusat pemerintahan baru dari dinasti baru Panembahan Maduretno. Disaat yang sama VOC sebagai sekutu Mataram bersiap menghancurkan kekuatan Panembahan Madutetno tersebut (Riclefs. 2005:175-177).

Kehadiran VOC dalam perang antara Mataram dengan kualisi pasukan Madura, Makasar dan Jawa pimpinan Panembahan Maduretno, menghadirkan sudut pandang sejarah nasional. Panembahan Maduretno tanpa disadari bahkan oleh dirinya sendiri telah menjadi bagian dari serangkaian perlawanan penguasa lokal pribumi terhadap penjajahan asing. Usaha-usaha beliau kelak di zaman yang berbeda menumbuhkan benih-benih nasionalisme dari bangsa baru yang muncul dipertengahan abad 20. Model yang paling mirip setidaknya dapat disandingkan dengan perjuangan Diponegoro terhadap kualisi kesultanan Yogya-Hindia Belanda pada tahun 1825 samapai 1830. Terlepas dari semua itu esensi dari kepahlawanan ada pada keperdulian terhadap penderitaan sesama manusia. Kepahlawanan merupaka perpaduan dari alturisme dengan keberanian untuk kebaikan bersama. Semoga kedepannya tidak ada lagi pahlawan yang diabaikan dengan alasan politik ataupun yang lain. Tidak ada manusia sempurna, dan tidak terkecuali pahlawan. Bisa jadi beragam alasan menahan jasa dan kepahlawanan sejumlah anak bangsa, salah satunya seperti  Kartosuwiryo. Namun rakyat yang mengenang jasa-jasanya telah mendahului pemerintah untuk memberikan gelar kepahlawanan. Semoga Kepahlawanan Panembahan Maduretno menjadi Inspirasi bagi semua upaya untuk melawan penindasan, Amien.

Kepustakaan

  • De Graaf, H.J. 2002. Puncak Kekuasaan Mataram; Politik Ekspnsi Sultan Agung. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  • Ma’arif, Samsul. 2015. The History of Madura; Sejarah Panjang Madura dari Kerajaan, Kolonialisme sampai Kemerdekaan. Yogyakarta: Araska
  • Ricklefs, M.C. 2005. Sejarah Indonesia Modern 1200-2004. Jakarta: SerambiSoekanto, Soerjono. 2012. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali PersSuyono. 2003. Peperangan Kerajaan di Nusantara: Penelusuran Kepustakaan Sejarah. Jakarta. Gramedia

Sumber Kesusastraan

Babad tanah Jawi; Mulai dari Nabi Adam sampai tahun 1647. Disusun oleh W.L. Olthof dan diterjemahkan oleh HR. Sumarsono. Penerbit Narasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *