Bahasa Menunjukkan Bangsa

Pagi itu ketika di koridor sekolah tampak beberapa orang siswa-siswi menyapa guru yang melintas di koridor sekolah. Terjadi komunikasi diantara mereka mulai dari percakapan ringan seputar menanyakan kabar hingga pembicaraan tentang pelajaran. Semula memang pemandangan tersebut sangat berkesan karena tampak keakraban dan kedekatan di antara mereka.

 

Namun ketika diamati lebih jelas tampak ada yang menggelitik dan mengganjal pada komunikasi mereka. Ya, hal ini berhubungan dengan bahasa yang digunakan siswa-siswi itu untuk berkomunikasi dengan guru mereka. Anak-anak tersebut menggunakan bahasa Madura yang terkesan kasar dan yang lazim digunakan untuk berkomunikasi dengan teman sebaya mereka.

Kesalahan tentu bukan pada penggunaan bahasa ‘ibu’ yang digunakan siswa-siswi tersebut. Kesalahan justru pada etika berbahasa yang sopan pada orang yang lebih tua (orang yang dihormati). Dalam bahasa Madura sendiri sebenarnya dikenal tingkatan penggunaan bahasa yang tentunya bertujuan untuk menghormati seseorang yang diajak berkomunikasi. Sayangnya, siswa-siswi tidak atau belum mau memperhatikan etika berkomunikasi dengan orang lain. Baik dari segi pemilihan bahasa maupun cara bertutur kata.

Belajar bahasa sejatinya belajar berkomunikasi, belajar menyampaikan ide atau gagasan dalam pikiran kita kepada orang lain agar pesan yang ingin kita sampaikan dapat diterima oleh orang lain. Dalam belajar bahasa khususnya ragam cakapan seharusnya seseorang dapat memperhatikan ragam penggunaan bahasa yang digunakan apakah kawan bicara kita sesama, lebih muda, lebih rendah statusnya atau seseorang yang dihormati.

Pemilihan bahasa yang baik tentunya akan memberikan dampak yang baik pula. Ibarat pepatah Bahasa menunjukkan bangsa, cara seseorang berbahasa tentunya menunjukkan bagaimana etika dan adab seseorang tersebut. Toh, penggunaan bahasa yang santun dan baik tentunya tidak akan mengurangi kedekatan seseorang dengan kawan bicaranya.  Justru hal tersebut melatih pelajar untuk tahu etika berkomunikasi yang pastinya bermanfaat untuk kehidupan mereka kelak. Apalagi  etika seorang pelajar sebagai calon pemimpin bangsa haruslah mulai dipersiapkan dari sekarang, terlebih dari penggunaan bahasa dalam berkomunikasi.

Pada akhirnya ketika seorang pelajar ingin mengungkapkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya dengan bahasa apa pun itu dan dengan siapa pun kawan bicara mereka akan terasa indah jika mereka dapat memperhatikan etika dalam berbahasa. Salam Bahasa!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *